Menelusuri Asal Muasal Kata “Allah”: Antara Kesejarahan, Bahasa, dan Ketetapan Wahyu
“Meski kata ‘Allah’ yang kita ucapkan tersusun dari huruf dan suara dalam ranah bahasa manusia, keberadaan nama-Nya dalam keilmuan Ilahi berakar pada sesuatu yang azali (qadim)—bukan sekadar konstruksi baru yang lahir setelah hadirnya manusia.”
Pendahuluan
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Al-hamdu lillâh wash-shalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad dan keluarganya. Hanya kepada-Nya kita memohon pertolongan dalam meraih inayah-Nya yang melimpah dan petunjuk-Nya yang sempurna. Âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.”
Saudaraku yang dikasihi Allah SWT, ketika kita menyebut nama “Allah” untuk mengagungkan Sang Pencipta alam semesta, pernahkah terlintas di pikiran kita: Dari manakah akar kata ini berasal? Apakah sebutan ini lahir dari kesepakatan tata bahasa manusia, dinamika sejarah, ataukah murni pernyataan langsung dari Sang Pencipta sendiri?
Mari kita bedah jejaknya melalui kacamata sejarah, penafsiran Al-Qur’an, dan kedalaman ilmu tauhid.
1. Jejak Kesejarahan dan Rumpun Bahasa Semit
Apakah sebutan “Allah” hanya dikenal oleh umat Islam? Kajian sejarah dan arkeologi linguistik menunjukkan fakta menarik: kata “Allah” telah digunakan jauh sebelum era kerasulan Nabi Muhammad SAW pada abad ke-7 Masehi.
Sebagai bagian dari tradisi rumpun agama dan bahasa Semit di Timur Tengah, kata ini dipakai oleh pelbagai komunitas monoteis maupun politeis:
- Penggunaan Lintas Agama: Hingga saat ini, nama “Allah” tetap digunakan dalam liturgi dan kitab suci umat Kristen Arab (Koptik, Maronite, Melkite), umat Kristen di Malta, penganut Babisme di Persia, hingga komunitas Yahudi Mizrahi (penganut Yahudi asli kawasan Timur Tengah).
- Akar Linguistik Rumpun Semit: Dalam bahasa-bahasa Semit yang berusia lebih tua dari bahasa Arab—seperti bahasa Aram dan Ibrani—ditemukan bentuk kata yang sepadan. Pada dialek Syriac (bahasa Aram yang digunakan Gereja Assyria), Tuhan disapa dengan sebutan Elah, Elaha, atau Alaha. Sementara dalam teks Ibrani (Hebrew Bible), sebutan Eloah (tunggal), Elohim (jamak), atau El memiliki akar kata yang saling bertautan.
- Perspektif Filologi: Mayoritas ahli bahasa Arab klasik (filolog) berargumen bahwa kata Allah merupakan bentuk pemadatan (murtajal/idgham) dari partikel al (kata penentu/definitif) dan ilah (tuhan). Sehingga secara harfiah, Allah bermakna “The God”—yakni Tuhan Yang Satu dan Maha Khusus.
- Bukti Arkeologis Pra-Islam: Sebelum Islam lahir, masyarakat Arab sudah sangat akrab dengan nama ini. Ayahanda Nabi Muhammad SAW sendiri bernama Abdullah (Hamba Allah). Prasasti dan artefak tua di Yaman serta situs Umm al-Jimal di Yordania Utara merekam inskripsi bertuliskan nama “Allah” pada cagar peninggalan era pra-Islam.
2. Perspektif Al-Qur’an: Self-Declaration Sang Pencipta
Terlepas dari akar kebahasaan manusia, Al-Qur’an menegaskan bahwa nama Allah adalah sebutan yang diperkenalkan langsung oleh Sang Maha Pencipta saat menyapa hamba-Nya.
Hal ini terabadikan secara eksplisit ketika Allah SWT berfirman kepada Nabi Musa AS di Lembah Suci Thuwa:
اِنَّنِيْٓ اَنَا اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدْنِيْ ۙ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ ١٤
“Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku. Maka, sembahlah Aku dan tegakkanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (Q.S. Ṭāhā [20]: 14)
Ayat ini menjadi bukti tegas bahwa Allah memperkenalkan diri-Nya sendiri dengan nama tersebut, sekaligus mengunci tauhid bahwa tidak ada zat yang berhak disembah melainkan Dia.
Selain lafal “Allah”, Al-Qur’an juga memperkenalkan sifat-sifat keagungan-Nya melalui Asmâul Husnâ:
قُلِ ادْعُوا اللّٰهَ اَوِ ادْعُوا الرَّحْمٰنَ ۗ اَيًّا مَّا تَدْعُوْا فَلَهُ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى ۚ … ١١٠
“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Serulah “Allah” atau serulah “Ar-Raḥmān”! Nama mana saja yang kamu seru, (maka itu baik) karena Dia mempunyai nama-nama yang terbaik (Asmaulhusna)…’” (Q.S. Al-Isrā’ [17]: 110)
3. Konsep Tauqifiyah dalam Akidah
Dalam disiplin ilmu akidah dan tauhid, penetapan nama-nama Allah menganut prinsip Tauqifiyah. Artinya, nama dan sifat Allah bersifat tertutup dari reka-reka akal manusia; penetapannya sepenuhnya bergantung pada petunjuk wahyu (Al-Qur’an dan As-Sunnah).
Manusia tidak berhak mengarang sebutan baru untuk Zat Yang Maha Suci di luar batasan yang telah diajarkan oleh Syariat. Syekh Ibrahim Al-Baijuri menegaskan prinsip ini dalam kitab Tuḥfatul Murīd:
وَاخْتَارَ جُمْهُوْرُ أَهْلِ السُّنَّةِ أَنَّ أَسْمَآءَهُ تَعَالَى تَوْقِيْفِيَّةٌ وَكَذَا صِفَاتَهُ، فَلَا تَثْبُتُ لِلّهِ إِسْمًا وَلَا صِفَةً إِلَّا اِذَا وُرِدَ بِذَلِكَ تَوْقِيْفٌ مِنَ الشَّارِعِ
“Mayoritas ulama Ahlussunnah berpendapat bahwa nama-nama dan sifat-sifat Allah SWT bersifat tauqifiyah. Oleh karena itu, tidak boleh menetapkan suatu nama atau sifat bagi Allah kecuali terdapat petunjuk eksplisit dari Pemilik Syariat (Allah dan Rasul-Nya).”
4. Kacamata Ilmu Tafsir: Karakteristik Lafal “Allah”
Para mufasir dan ahli bahasa Arab memberikan tiga catatan khusus terkait kedudukan lafal Allah:
- Isim Jamid (Nama Khusus): Lafal “Allah” adalah isim jamid—sebuah nama diri (Alam) yang dikhususkan hanya untuk Wājibul Wujūd (Zat yang wajib ada-Nya dengan sendirinya). Nama ini murni milik Pencipta dan tidak pernah bisa ditujukan kepada makhluk.
- Penegasan Hakikat lewat Surat Al-Ikhlas: Keesaan dan keagungan nama Allah dirangkum secara sempurna dalam Surat Al-Ikhlas [112]: 1–4, yang menegaskan bahwa Dia adalah tempat bergantung, tidak beranak, tidak diperanakkan, serta tiada tandingan.
5. Hakikat Nama: Antara Yang Qadim dan Yang Hadits
Dalam ilmu kalam (teologi Islam), timbul pertanyaan mendalam: Apakah nama Allah itu qadim (azali tanpa awal) atau hadits (baru)?
Untuk membedah hal ini, Imam Al-Ghazali dalam Al-Maqṣidul Asnā membagi struktur penamaan menjadi tiga entitas yang berbeda:
- Al-Ism (Nama)
- At-Tasmiyah (Proses/Perbuatan Menamai)
- Al-Musamma (Zat yang Dinamai)
Imam Al-Ghazali menjelaskan:
وَالْحَقُّ أَنَّ الْإِسْمَ غَيْرُ التَّسْمِيَةِ وَغَيْرُ الْمُسَمَّى، وَأَنَّ هَذِهِ الثَّلَاثَةَ أَسْمَآءٌ مُتَبَايِنَةٌ غَيْرُ مُتَرَادِفَةٌ
“Pendapat yang benar adalah bahwa nama (al-ism) bukanlah proses penamaan (at-tasmiyah) dan bukan pula Zat yang dinamai (al-musamma). Ketiganya merupakan konsep yang berbeda dan tidak sinonim.”
Penjelasan Sederhana:
- Dimensi Bahasa Manusia (Hadits): Suara, lafal, dan tulisan huruf Alif-Lam-Lam-Ha yang kita ucapkan dan tulis adalah media bahasa yang baru diciptakan (hadits).
- Dimensi Penamaan Ilahi (Qadim): Namun, hakikat penamaan Allah terhadap diri-Nya sendiri serta pengetahuan-Nya akan nama-Nya telah ada dalam ilmu Allah yang bersifat azali (qadim), jauh sebelum lidah manusia diciptakan.
Sebagaimana diterangkan pula oleh Syekh Ibrahim Al-Baijuri, ke-qadim-an nama-nama Allah tidak terletak pada artikulasi suara manusia, melainkan pada ketetapan penamaan-Nya sejak azali.
Kesimpulan
Menelusuri kata “Allah” membuka cakrawala bahwa secara historis-linguistik, lafal ini memiliki jalinan panjang dengan peradaban rumpun Semit dan tradisi keagamaan pra-Islam. Namun secara hakikat syariat dan akidah, nama Allah adalah wahyu tauqifiyah—penegasan langsung dari Sang Maha Pencipta yang melampaui keterbatasan lidah dan bahasa manusia.
Wallāhu A‘lam bish-Shawāb.
