Budaya

Dakwah Kultural Islam di Tanah Sunda

Islamisasi Tanah Sunda pun memanfaatkan medium budaya untuk berdakwah.

Penyebaran Islam di Tatar Sunda berjalan dengan cara-cara damai. Pendekatan budaya kental mewarnai persinggungan Islam dengan tradisi dan keyakinan lokal yang telah mengakar kuat di masyarakat. Pengajaran akidah, ibadah, dan akhlak disampaikan bertahap melalui berbagai jalan dan akulturasi kebudayaan.

Mumuh Muhsin Z dalam makalahnya “Penyebaran Islam di Jawa Barat”, mengungkapkan Islam masuk ke wilayah Sunda secara damai melalui perkawinan, perdagangan, budaya, juga politik.

Kerajaan Demak, Cirebon, dan Banten menjadi tumpuan penting penyebaran Islam ke wilayah Sunda sebelum akhirnya memasuki pusat Kerajaan Pajajaran di Pakuan pada 1579 M.

Dalam perkembangan selanjutnya, penyebaran Islam lebih tertata melalui pondok pesantren. Jawa Barat bahkan menjadi salah satu wilayah dengan jumlah pondok pesantren terbanyak di Indonesia. Pondok pesantren tua yang ada di Jawa Barat pun hampir selalu memiliki kaitan intelektual dengan Cirebon dan Banten.

Selain melalui jalur pendidikan, Islam di Tatar Sunda diperkenalkan pula melalui kesenian.

SHARE  

Selain melalui jalur pendidikan, Islam di Tatar Sunda diperkenalkan pula melalui kesenian, seperti seni bela diri. Herliswanny dalam “Apresiasi Generasi Muda terhadap Pencak Silat di Daerah Jawa Barat” mengungkapkan, pencak silat juga dijadikan media penyebaran Islam. Gerakan-gerakan yang dilatih pun sarat pesan tentang penghambaan terhadap Allah SWT.

Aliran pencak silat tertua di Jawa Barat, Cimande, disebarkan pertama kali oleh seorang guru agama, Kahir, di wilayah Cogreg, Bogor, pada 1760 M. Murid-murid Kahir lalu menyebarkan silat Cimande ke berbagai wilayah. Selain Cimande, ada pula tiga aliran silat lainnya yang dikenal di Jawa Barat, yakni Cikalong, Sera, dan Syahbandar.

Tepak Salancar Cimande bahkan diadaptasi dari gerakan wudhu dan shalat. Orang-orang yang akan mendalami silat Cimande juga disyaratkan bisa membaca bismillah, shalawat, dan syahadat. Karena dibutuhkan sebagai alat bela diri, jalan ini berhasil menarik banyak masyarakat Sunda memeluk Islam.

Silat Sunda lazim diiringi tetabuhan kendang sebagai unsur seni. Kempul merupakan alat tabuh yang pertama dipukul yang tujuannya mengumpulkan orang. Tiupan pamelet diharapkan menimbulkan rasa senang saat berkumpul. Suara gong juga maksudnya adalah agung atau mengagungkan Yang Kuasa.

Tari Topeng juga dimanfaatkan sebagai media penyebaran Islam.  

Nurul Fitri menulis dalam makalahnya yang berjudul, “Tari Topeng Cirebon Kesenian yang Diislamkan”, tari Topeng juga dimanfaatkan sebagai media penyebaran Islam. Lima topeng yang digunakan, yaitu panji, samba, rumyang, tumenggung, dan klana, menjadi simbol tahapan perjalanan hidup manusia sejak lahir hingga dewasa.

Topeng yang ditampilkan menyampaikan berbagai nilai seperti kebijaksanaan, kepemimpinan, cinta, dan amarah yang lazim muncul dalam tiap tahap hidup manusia.

Begitu pula dengan lukisan kaca khas Cirebon. Motif Megamendung, misalnya, yang bergambar gunung-gunung berawan. Motif ini menyiratkan perjalanan orang arif. Awalnya orang itu dalam keadaan bodoh sekali, lalu belajar sampai pintar. Lalu, ia turun lagi ke bawah seperti orang bodoh, padahal sudah pintar. Ini sebenarnya merupakan pelajaran tentang tawadhu.

photo

Islam semakin kuat di wilayah Jawa Barat seiring berdirinya kerajaan-kerajaan Islam. Pemerintah ketika itu berkontribusi besar menjadikan Islam sebagai ruh berbangsa dan bernegara.

Pada masa kepemimpinan Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi), Kerajaan Pajajaran berhasil meluaskan kekuasaannya dengan memiliki tiga wilayah otonom, yakni Singapura atau Mertasinga yang dikepalai oleh Mangkubumi Singapura (Tasikmalaya), Pesambangan (pantai Cirebon) yang dikepalai oleh Ki Ageng Jumajan Jati, dan Japura (Jepara) yang dikepalai oleh Ki Ageng Japura.

Mumuh Muhsin Z dalam “Terbentuknya Keresidenan Priangan” menulis runtuhnya Kerajaan Pajajaran pada abad ke-16 memunculkan Kerajaan Cirebon dan Banten sebagai kerajaan Islam. Kerajaan Cirebon menjadi pusat penyebaran Islam setelah Sunan Gunung Jati menjadi pimpinan Wali Songo.

Sunan Gunung Jati melakukan perjalanan ke berbagai wilayah untuk menyebarkan Islam.

SHARE  

Sunan Gunung Jati melakukan perjalanan ke berbagai wilayah untuk menyebarkan Islam. Ia juga yang berhasil mengembangkan Islam di wilayah-wilayah otonom di bawah kepemimpinan Kerajaan Sunda, seperti Majalengka, Kuningan, Galuh, Sunda Kelapa, dan Banten.

M Yahya Harun dalam “Kerjaan Islam Nusantara Abad XVI dan XVII” mengungkapkan Banten yang disebut sebagai Wahanten Girang dalam naskah Carita Parahiyangan awalnya adalah daerah otonom di bawah kekuasaan Pajajaran. Pengaruh Demak dan Cirebon pada abad ke-16 membuat Banten menjadi wilayah Islam.

Mumuh Muhsin Z dalam “Kerjaan Sumedanglarang” menulis Kerajaan Banten berulang kali mencoba menaklukkan Pajajaran selama puluhan tahun, tapi belum berhasil. Namun, seperti Kerajaan Cirebon, Kerajaan Banten juga memasukkan ajaran Islam ke kerajaan-kerajaan kecil di wilayah kekuasaan Pajajaran, temasuk Kerajaan Sumedanglarang.

Masjid Merah Panjunan dan Masjid Sang Cipta Rasa menjadi salah satu peninggalan Kerajaan Cirebon yang masih ada. Kompleks Dalem Pakungwati juga menjadi bukti kecintaan Walasungsang (Cakrabuana) terhadap anak perempuannya, Pakungwati.

photo

Hansiswany Kamarga dalam “Bercermin pada Sejarah Banten Tempo Dulu” menulis pada 1527, Faletehan atau Fatahillah berhasil menghentikan upaya intervensi Portugis yang menjalin kerja sama dengan Pajajaran. Kerajaan Banten bekerja sama dengan Demak dan Cirebon, Kerajaan Banten berhasil menaklukan Kerajaan Sunda terakhir, Pajajaran.

Banten di puncak kejayaannya saat Sultan Ageng Tirtayasa bertakhta pada 1651 M-1682 M. Pengaruh Banten meluas hingga ke Lampung kala itu. Kompleks Masjid Agung dan Masjid Koja jadi salah satu bukti penyebaran Islam di Banten.